Menjelang persalinan, banyak Bunda sudah menyiapkan hospital bag, pakaian bayi, hingga rencana menyusui. Salah satu hal yang juga penting dipahami sejak hamil adalah manfaat IMD bagi bayi baru lahir dan bagaimana proses Inisiasi Menyusu Dini dilakukan setelah persalinan.
Inisiasi Menyusu Dini atau IMD bukan sekadar “menempelkan bayi ke puting”. Prosesnya dimulai dengan kontak kulit ke kulit segera setelah lahir, lalu bayi diberi kesempatan untuk beradaptasi, mencari payudara, dan mulai menyusu sesuai kesiapan serta kondisi klinis ibu dan bayi.
WHO merekomendasikan kontak kulit ke kulit segera dan tanpa gangguan setelah lahir serta mendukung ibu untuk mulai menyusui secepat mungkin, idealnya dalam satu jam pertama. Skin-to-skin membantu menjaga suhu tubuh bayi, mendukung awal menyusui, dan memberi kesempatan bayi menerima kolostrum.
Artikel ini merupakan remake dan pengembangan dari artikel Mom Uung sebelumnya. Struktur sumber dipertahankan: pengertian IMD, tiga manfaat utama, tips pelaksanaan, faktor keberhasilan, cara menilai keberhasilan, dan langkah yang dapat dilakukan bila fasilitas persalinan belum optimal mendukung IMD.
Untuk memahami tanda persalinan sebelum momen IMD tiba, Bunda juga dapat membaca artikel sebelumnya: Perut Kencang Tapi Belum Waktunya Lahiran? Cek Beda Kontraksi Palsu & Asli di Sini.
Catatan penting: IMD dilakukan bila kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Bila bayi membutuhkan resusitasi atau penanganan medis segera, keselamatan bayi menjadi prioritas. Skin-to-skin dan menyusui tetap dapat diupayakan sesegera mungkin setelah kondisi stabil sesuai arahan tenaga kesehatan.

Apa Itu Inisiasi Menyusu Dini atau IMD?
Inisiasi Menyusu Dini adalah proses memulai kontak kulit ke kulit dan menyusui sesegera mungkin setelah bayi lahir.
Pada praktiknya, bayi diletakkan di dada atau perut telanjang ibu agar terjadi skin-to-skin contact. Bayi kemudian diberi kesempatan untuk beradaptasi dan menunjukkan refleks alami mencari payudara.
WHO menyebut early initiation of breastfeeding sebagai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran.
WHO juga merekomendasikan kontak kulit ke kulit langsung dan tanpa gangguan sesegera mungkin setelah lahir.
Sumber: WHO — Early Initiation of Breastfeeding.
Apakah Bayi Harus Langsung Menemukan Puting dalam Beberapa Menit?
Tidak.
Salah satu kesalahpahaman tentang IMD adalah menganggap bayi gagal jika tidak segera mengisap dalam beberapa menit.
Padahal, bayi membutuhkan waktu untuk:
menyesuaikan napas;
mengenali aroma ibu;
melakukan gerakan tangan dan kepala;
mencari payudara;
membuka mulut;
mulai mengisap.
WHO menjelaskan bahwa kontak skin-to-skin sebaiknya berlangsung tanpa gangguan selama setidaknya satu jam atau sampai menyusui pertama berlangsung bila kondisi memungkinkan.
Karena itu, keberhasilan IMD tidak hanya diukur dari banyaknya ASI yang langsung diminum bayi.
3 Manfaat IMD bagi Bayi Baru Lahir
Artikel sumber Mom Uung menyoroti tiga manfaat utama:
membantu bayi mendapatkan kolostrum;
membantu proses adaptasi tubuh bayi melalui skin-to-skin;
membantu membangun awal proses menyusui dan kesehatan pencernaan.
Berikut penjelasannya.
1. Membantu Bayi Mendapatkan Kolostrum Sejak Awal
Kolostrum adalah ASI pertama yang diproduksi pada hari-hari awal setelah melahirkan.
Jumlahnya memang sedikit, tetapi mengandung:
antibodi;
protein;
faktor imun;
komponen bioaktif.
WHO menyebut memulai menyusui dalam satu jam pertama membantu memastikan bayi menerima kolostrum yang kaya faktor perlindungan.
Karena itu, Bunda tidak perlu menunggu ASI terlihat “banyak” sebelum mulai menyusui.
Kolostrum yang hanya beberapa tetes tetap berharga.
2. Membantu Menjaga Stabilitas Tubuh Bayi
Kontak kulit ke kulit segera setelah lahir membantu proses adaptasi bayi.
WHO menyebut skin-to-skin membantu:
menjaga suhu tubuh;
membuat bayi lebih tenang;
mendukung interaksi ibu dan bayi;
memfasilitasi awal menyusui.
Dalam sumber Mom Uung, manfaat ini juga dikaitkan dengan stabilitas suhu dan detak jantung bayi.
Skin-to-skin membuat bayi mendapatkan kehangatan langsung dari tubuh ibu tanpa harus langsung dipisahkan selama kondisi keduanya stabil.
3. Mendukung Awal Menyusui dan Kesehatan Pencernaan
Kontak kulit ke kulit dan menyusui dini memberi kesempatan bayi terpapar mikroorganisme dari kulit ibu dan menerima kolostrum sejak awal.
WHO menyebut bayi yang mendapat skin-to-skin dini cenderung:
lebih mudah memulai menyusui;
memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan ASI eksklusif;
berinteraksi lebih banyak dengan ibu;
menangis lebih sedikit.
Sumber Mom Uung juga menyoroti paparan bakteri baik sebagai salah satu manfaat untuk proses awal sistem pencernaan bayi.
Namun, manfaat kesehatan pencernaan tidak berarti IMD menjamin bayi tidak akan mengalami kolik, refluks, atau masalah pencernaan lainnya.
Bonus Manfaat untuk Ibu: Membantu Pelepasan Oksitosin
Walaupun judul membahas manfaat untuk bayi, sumber Mom Uung juga mencantumkan manfaat penting bagi ibu.
Hisapan bayi saat menyusu merangsang hormon oksitosin.
Oksitosin berperan dalam:
refleks pengeluaran ASI;
kontraksi rahim setelah persalinan.
Karena itu, kontak dan menyusui dini dapat menjadi bagian dari proses adaptasi ibu setelah melahirkan.
Tetapi IMD bukan satu-satunya tindakan untuk mencegah perdarahan pascapersalinan. Pencegahan dan penanganan perdarahan tetap mengikuti protokol obstetri oleh tenaga kesehatan.
Bagaimana Cara Melakukan IMD?
Pada bayi dan ibu yang stabil, proses IMD umumnya mengikuti langkah berikut.
Letakkan bayi langsung di dada atau perut telanjang ibu.
Keringkan tubuh bayi sambil mempertahankan skin-to-skin.
Tutup tubuh bayi dengan kain atau selimut hangat.
Pastikan hidung dan mulut bayi terlihat dan jalan napas bebas.
Biarkan bayi beradaptasi tanpa terburu-buru.
Beri kesempatan bayi mencari payudara.
Dukung pelekatan saat bayi sudah siap menyusu.
Pertahankan skin-to-skin setidaknya selama satu jam bila kondisi memungkinkan.
WHO merekomendasikan bayi diletakkan telanjang di dada ibu, dikeringkan di atas tubuh ibu, kemudian ibu dan bayi ditutup dengan selimut sambil memastikan mulut dan hidung bayi tetap terlihat.
1. Letakkan Bayi di Dada atau Perut Ibu
Segera setelah lahir dan dinyatakan stabil, bayi dapat diletakkan di dada atau perut telanjang Bunda.
Ini menciptakan kontak kulit ke kulit langsung.
Tenaga kesehatan tetap dapat melakukan sebagian penilaian awal sambil mempertahankan bayi di dada ibu bila kondisi memungkinkan.
2. Keringkan Bayi Tanpa Memisahkan
Tubuh bayi perlu dikeringkan untuk membantu mencegah kehilangan panas.
WHO merekomendasikan bayi dikeringkan saat berada di dada ibu, lalu ibu dan bayi ditutup dengan kain hangat.
Sumber Mom Uung menyebut telapak tangan bayi tidak perlu segera dibersihkan karena aroma cairan yang tersisa disebut dapat membantu proses mencari payudara.
Detail ini merupakan bagian dari teknik breast crawl yang digunakan dalam sejumlah praktik IMD, tetapi pelaksanaannya tetap mengikuti protokol fasilitas tempat Bunda melahirkan.
3. Tunggu Proses Breast Crawl
Bayi baru lahir memiliki berbagai refleks yang mendukung proses menyusu.
Bunda mungkin melihat bayi:
menggerakkan kepala;
membuka mulut;
menjilat;
menggerakkan tangan;
mendorong kaki;
bergerak perlahan ke arah payudara.
Proses ini sering disebut breast crawl.
Tidak perlu mendorong kepala bayi ke payudara.
Biarkan bayi bergerak sesuai kemampuannya sambil tenaga kesehatan memastikan posisi tetap aman.
4. Jangan Terburu-Buru Memasukkan Puting ke Mulut
IMD berbeda dengan langsung memaksakan latch.
Bayi perlu diberi kesempatan untuk:
mencium;
menyentuh;
mencari;
membuka mulut.
Ketika bayi siap, tenaga kesehatan dapat membantu Bunda memastikan pelekatan yang efektif.
5. Pertahankan Skin-to-Skin Tanpa Gangguan
WHO merekomendasikan skin-to-skin langsung dan tidak terputus setelah lahir.
Prosedur rutin seperti:
menimbang;
mengukur panjang badan;
memandikan;
umumnya dapat ditunda bila tidak ada indikasi medis mendesak.
Tujuannya adalah menjaga momen adaptasi bayi dan awal menyusui tidak terputus tanpa alasan.
Berapa Lama IMD Sebaiknya Dilakukan?
Sumber Mom Uung menyebut minimal 60 menit atau sampai bayi berhasil menyusu pertama kali.
WHO merekomendasikan kontak skin-to-skin segera dan tanpa gangguan setidaknya selama satu jam, serta memulai menyusui dalam satu jam pertama setelah lahir.
Panduan Early Essential Newborn Care WHO bahkan mendorong kontak skin-to-skin berkepanjangan, tidak kurang dari 90 menit dalam konteks perawatan bayi baru lahir esensial.
Namun, angka tersebut tidak perlu dipahami sebagai stopwatch yang menentukan “berhasil” atau “gagal”.
Jika IMD harus terputus karena kebutuhan medis, skin-to-skin dapat diupayakan kembali ketika kondisi stabil.
Apakah IMD Bisa Dilakukan Setelah Operasi Caesar?
Bisa pada banyak kasus, tergantung kondisi ibu, bayi, jenis anestesi, dan kebijakan fasilitas.
Jika Bunda sadar, stabil, dan bayi tidak memerlukan penanganan khusus, skin-to-skin dapat diupayakan di ruang operasi atau ruang pemulihan dengan bantuan tenaga kesehatan.
Diskusikan sebelum persalinan:
apakah rumah sakit mendukung IMD setelah caesar;
siapa yang membantu memegang bayi;
kapan skin-to-skin dapat dimulai;
bagaimana jika ibu dan bayi harus terpisah sementara.
Jangan merasa IMD “gagal total” hanya karena tidak terjadi tepat setelah operasi.
Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan IMD
Sumber Mom Uung menyoroti tiga faktor: persiapan sejak hamil, dukungan tenaga medis, dan dukungan suami.
Ketiganya memang penting.
1. Persiapan Sejak Hamil
Sampaikan keinginan melakukan IMD saat kontrol kehamilan.
Bunda dapat menanyakan:
apakah IMD rutin dilakukan;
apakah skin-to-skin minimal satu jam didukung;
bagaimana prosedur setelah caesar;
apakah rawat gabung tersedia;
apakah ada konselor laktasi.
Semakin awal dibicarakan, semakin mudah memasukkannya ke birth plan.
2. Dukungan Tenaga Kesehatan
WHO menekankan bahwa ibu perlu mendapat dukungan praktis untuk:
mulai menyusui;
mempertahankan menyusui;
mengatasi kesulitan awal.
Fasilitas dengan kebijakan pro-ASI dan Baby-Friendly Hospital Initiative umumnya memiliki sistem yang lebih mendukung skin-to-skin, rawat gabung, dan menyusui responsif.
3. Dukungan Pasangan
Ayah atau pendamping dapat membantu:
mengingatkan birth plan;
memastikan Bunda nyaman;
membantu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan;
memberi dukungan emosional;
membantu skin-to-skin bila ibu belum memungkinkan dalam kondisi tertentu sesuai kebijakan fasilitas.
Dukungan ini membuat Bunda tidak perlu mengurus seluruh proses sendirian setelah persalinan.
Bagaimana Menilai IMD Berhasil?
Keberhasilan IMD tidak harus diukur dari volume ASI.
Tanda proses berjalan baik dapat berupa:
bayi mendapat skin-to-skin;
bayi tetap hangat dan stabil;
bayi mulai menunjukkan refleks mencari;
bayi menemukan payudara;
bayi mulai menjilat atau mengisap;
bayi melakukan pelekatan;
menyusui pertama berlangsung;
ibu dan bayi tetap bersama bila memungkinkan.
Sumber Mom Uung juga menekankan bahwa IMD lebih merupakan proses adaptasi daripada target “berapa mililiter ASI yang diminum”.
Ini penting karena kolostrum pada hari pertama memang keluar dalam jumlah kecil.
Bagaimana Jika Bayi Tidak Berhasil Menyusu dalam Satu Jam?
Jangan langsung panik.
Jika kondisi bayi baik tetapi belum latch:
lanjutkan skin-to-skin;
minta bantuan bidan atau konselor laktasi;
periksa posisi;
tawarkan payudara kembali saat bayi menunjukkan tanda siap;
bila perlu, pelajari hand expression untuk mendapatkan kolostrum.
WHO juga merekomendasikan ibu diajarkan memerah ASI jika sementara terpisah dari bayi.
Bagaimana Jika Rumah Sakit Belum Mendukung IMD?
Sumber Mom Uung memberikan bagian khusus untuk skenario ini.
Bila IMD penuh tidak dapat dilakukan:
lakukan skin-to-skin sesegera mungkin setelah kondisi memungkinkan;
upayakan rawat gabung;
susui responsif;
hindari pemisahan ibu dan bayi tanpa alasan medis;
minta bantuan tenaga kesehatan bila latch sulit;
lakukan pemerahan ASI jika bayi belum bisa menyusu langsung.
Tidak terlaksananya IMD bukan berarti perjalanan menyusui pasti gagal.
Stimulasi dini dan konsisten tetap membantu proses laktasi.
Kapan IMD Perlu Ditunda?
IMD dapat perlu disesuaikan bila ibu atau bayi membutuhkan tindakan medis segera.
Contohnya:
bayi membutuhkan resusitasi;
bayi mengalami gangguan napas;
bayi tidak stabil;
ibu mengalami perdarahan berat;
ibu membutuhkan tindakan darurat;
kondisi lain yang menurut tenaga kesehatan membutuhkan prioritas penanganan.
Setelah kondisi stabil, skin-to-skin dan dukungan menyusui dapat dimulai kembali.
Prinsipnya: keselamatan terlebih dahulu, lalu kontak ibu–bayi dipulihkan secepat mungkin.
Apakah IMD Menjamin ASI Langsung Lancar?
Tidak.
IMD membantu menciptakan awal yang baik, tetapi produksi ASI dipengaruhi banyak faktor:
hormon;
frekuensi stimulasi;
pelekatan;
kondisi ibu;
kondisi bayi;
persalinan;
pemisahan ibu dan bayi.
Karena itu, jangan merasa gagal bila ASI belum terasa banyak setelah IMD.
Pada hari pertama, kolostrum memang sedikit.
Apakah IMD Sama dengan Skin-to-Skin?
Tidak persis.
Skin-to-skin adalah kontak kulit telanjang bayi dengan kulit ibu.
IMD mencakup skin-to-skin dan upaya memulai menyusui dini.
Skin-to-skin tetap bermanfaat meskipun bayi belum langsung menyusu.
Apakah Bayi Harus Dimandikan Setelah Lahir?
Tidak perlu terburu-buru.
WHO merekomendasikan perawatan yang mempertahankan kehangatan dan skin-to-skin segera setelah lahir.
Memandikan bayi dapat ditunda agar suhu tubuh lebih stabil dan proses adaptasi serta menyusui tidak terganggu.
FAQ tentang Manfaat IMD bagi Bayi Baru Lahir
Apa kepanjangan IMD?
IMD adalah Inisiasi Menyusu Dini, yaitu proses memulai menyusui sesegera mungkin setelah bayi lahir.
Kapan IMD dilakukan?
Idealnya segera setelah lahir dan menyusui dimulai dalam satu jam pertama bila kondisi ibu dan bayi stabil.
Berapa lama skin-to-skin saat IMD?
WHO merekomendasikan kontak segera dan tanpa gangguan setidaknya satu jam. Beberapa panduan newborn care mendorong durasi lebih lama bila memungkinkan.
Apakah bayi harus langsung menyusu saat diletakkan di dada?
Tidak. Bayi dapat membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan mencari payudara.
Apakah IMD bisa dilakukan setelah caesar?
Bisa pada banyak kasus bila kondisi ibu dan bayi stabil serta fasilitas mendukung.
Apa manfaat IMD yang paling utama?
Manfaatnya antara lain membantu bayi mendapat kolostrum lebih awal, mendukung stabilitas suhu dan adaptasi tubuh, serta membantu proses awal menyusui.
Apakah bayi yang gagal latch saat IMD berarti gagal ASI eksklusif?
Tidak. Proses menyusui masih dapat dilanjutkan dengan skin-to-skin, bantuan latch, hand expression, dan dukungan laktasi.
Apakah IMD harus dilakukan tepat 60 menit?
Tidak perlu dipahami sebagai batas kaku. Tujuannya adalah skin-to-skin tidak terputus dan menyusui dimulai sedini mungkin.
Siapa yang membantu proses IMD?
Dokter, bidan, perawat, atau tenaga kesehatan di fasilitas persalinan akan membantu memastikan ibu dan bayi aman selama proses.
Penutup
Manfaat IMD bagi bayi baru lahir bukan hanya soal mendapatkan ASI pertama. Proses skin-to-skin membantu bayi beradaptasi, menjaga kehangatan, mulai mengenali payudara, dan mendapatkan kesempatan menerima kolostrum sejak awal.
Tiga manfaat utama yang perlu Bunda ingat adalah:
membantu bayi mendapatkan kolostrum;
mendukung stabilitas dan adaptasi tubuh bayi;
membantu membangun awal proses menyusui.
Agar IMD berjalan lebih lancar, diskusikan rencana sejak hamil, pilih fasilitas yang mendukung skin-to-skin, libatkan pasangan, dan minta bantuan tenaga kesehatan bila bayi belum langsung latch.
Yang paling penting, jangan melihat IMD sebagai ujian yang hanya punya hasil “berhasil” atau “gagal”. Bila proses harus tertunda karena kebutuhan medis, skin-to-skin dan menyusui tetap dapat dilanjutkan sesegera mungkin setelah ibu dan bayi stabil.




Comments
Memuat komentar...