Beranda/Artikel/Mastitis pada Ibu Menyusui: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Tanda Bahaya

Woman hand checking lumps her breast signs breast cancer gray background healthcare concept closeup woman s hand breast showing cancer symptom 657921 1209Menyusui & ASI

Mastitis pada Ibu Menyusui: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Tanda Bahaya

13 Menit Baca 29 November 2025Ditulis oleh Mom Uung

Mastitis pada Ibu Menyusui: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Tanda Bahaya

Payudara yang tiba-tiba terasa nyeri, bengkak, hangat, atau disertai badan meriang memang bisa membuat Bunda khawatir. Mastitis pada ibu menyusui adalah kondisi peradangan pada jaringan payudara yang dapat muncul selama masa laktasi, dan tidak semua kasus langsung berarti ada infeksi bakteri.

Sebagian mastitis berawal dari peradangan, edema jaringan, penyempitan saluran, atau pengosongan ASI yang terganggu. Pada sebagian kasus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi mastitis bakteri dan membutuhkan penilaian dokter.

Karena gejalanya dapat berubah cukup cepat, penting bagi Bunda untuk mengenali apa yang masih bisa dipantau dengan penanganan awal dan kapan harus mencari pertolongan medis.

Artikel ini merupakan remake dan pengembangan dari materi edukasi Mom Uung sebelumnya dengan pembaruan agar lebih selaras dengan pendekatan mastitis modern, termasuk Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36 tentang Mastitis Spectrum.

Bunda juga dapat membaca 10 Masalah Umum dalam Menyusui dan Cara Mengatasinya dengan Aman sebagai bagian dari rangkaian edukasi menyusui Mom Uung.

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti diagnosis atau pengobatan dokter. Jangan memulai antibiotik, obat antinyeri, atau terapi lain hanya berdasarkan artikel ini. Segera cari pertolongan medis bila Bunda merasa sangat tidak sehat, pusing berat, bingung, sulit berbicara, muntah terus-menerus, nyeri memburuk cepat, atau muncul benjolan lunak/berisi cairan yang dicurigai sebagai abses.

Woman hand checking lumps her breast signs breast cancer gray background healthcare concept closeup woman s hand breast showing cancer symptom 657921 1209

Apa Itu Mastitis?

Mastitis adalah peradangan pada satu atau beberapa bagian payudara yang dapat terjadi dengan atau tanpa infeksi. Kondisi ini biasanya menimbulkan nyeri, pembengkakan, rasa hangat, perubahan warna kulit, dan kadang gejala sistemik seperti demam, menggigil, atau badan terasa seperti flu.

IDAI menjelaskan bahwa mastitis merupakan proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang dapat disertai infeksi maupun tanpa infeksi.

Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) kini menggambarkan mastitis sebagai sebuah spektrum kondisi, mulai dari penyempitan saluran dan inflamasi sampai mastitis bakteri, phlegmon, atau abses.

Bunda dapat membaca referensi medisnya melalui: IDAI — Mastitis: Pencegahan dan Penanganan dan Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36.

Apa Saja Gejala Mastitis pada Ibu Menyusui?

Gejala mastitis dapat berbeda antaribu dan tidak semua tanda harus muncul sekaligus.

Gejala yang umum antara lain:

  • satu bagian payudara terasa nyeri;

  • payudara terasa bengkak atau lebih keras;

  • bagian tertentu terasa hangat;

  • kulit tampak kemerahan atau lebih gelap dari sekitarnya;

  • payudara terasa sangat penuh atau berbenjol;

  • demam;

  • menggigil;

  • pegal seperti flu;

  • kelelahan berat;

  • rasa tidak enak badan yang muncul cukup mendadak.

Pada kulit yang lebih gelap, perubahan warna mungkin tidak terlihat sebagai “merah” tetapi sebagai area yang tampak lebih gelap atau berbeda dari sekitarnya.

Tidak adanya kemerahan juga tidak otomatis menyingkirkan mastitis.

Apakah Mastitis Selalu Disebabkan Infeksi Bakteri?

Tidak.

Ini salah satu bagian paling penting yang sering disalahpahami.

Mastitis dapat dimulai sebagai proses inflamasi tanpa infeksi bakteri. Academy of Breastfeeding Medicine menjelaskan bahwa pembengkakan jaringan dan penyempitan saluran dapat memicu spektrum inflamasi.

Pada kondisi tertentu, inflamasi dapat berkembang menjadi mastitis bakteri.

Karena itu, antibiotik tidak otomatis diperlukan pada setiap kasus mastitis. Dokter akan menilai gejala, durasi, tingkat keparahan, serta respons terhadap penanganan suportif sebelum menentukan apakah antibiotik diperlukan.

Jangan menggunakan sisa antibiotik lama atau membeli antibiotik sendiri karena jenis, dosis, dan durasi terapi perlu ditentukan berdasarkan kondisi klinis.

Apa Penyebab dan Faktor Risiko Mastitis?

Mastitis tidak selalu memiliki satu penyebab tunggal. Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko.

1. Perubahan Frekuensi Menyusui yang Mendadak

Payudara dapat mengalami pembengkakan dan inflamasi ketika interval menyusui tiba-tiba menjadi lebih panjang.

Contohnya: - bayi tidur lebih panjang dari biasanya; - Bunda kembali bekerja; - satu sesi pumping terlewat; - bayi mulai mengurangi sesi menyusu secara mendadak.

Perubahan jadwal sebaiknya dilakukan bertahap bila memungkinkan.

2. Pelekatan Bayi Kurang Efektif

Pelekatan yang kurang baik dapat membuat transfer ASI tidak optimal dan meningkatkan risiko area payudara menjadi terlalu penuh.

Tanda pelekatan yang perlu dievaluasi antara lain: - menyusui terus-menerus terasa sakit; - puting menjadi pipih seperti lipstik setelah menyusui; - puting lecet; - bayi sering lepas dari payudara; - suara menelan jarang terdengar; - bayi kesulitan mempertahankan hisapan.

Bila keluhan berulang, konselor laktasi dapat membantu mengevaluasi posisi dan pelekatan.

3. Payudara Terlalu Penuh

Engorgement atau payudara yang sangat penuh dapat meningkatkan tekanan di dalam jaringan.

Namun, solusi bukan memaksa payudara “kosong total” dengan pumping berlebihan.

Stimulasi yang terlalu agresif justru dapat meningkatkan produksi sehingga siklus penuh–pompa berlebihan–penuh kembali menjadi semakin berat.

4. Oversupply atau Produksi ASI Berlebih

Produksi ASI yang jauh melebihi kebutuhan bayi dapat meningkatkan risiko pembengkakan dan inflamasi.

Jika Bunda mengalami oversupply, jangan menambah jadwal pumping tanpa tujuan yang jelas. Konselor laktasi dapat membantu menyusun strategi yang tidak makin merangsang produksi.

5. Tekanan pada Payudara

Bra terlalu ketat, posisi tidur tertentu, tali tas, tekanan jari saat menyusui, atau benturan dapat menambah rasa nyeri dan inflamasi pada sebagian ibu.

Gunakan bra yang menopang tetapi tidak menekan berlebihan.

6. Puting Lecet

Luka pada puting dapat terjadi akibat pelekatan yang kurang tepat dan dapat menjadi pintu masuk bakteri pada sebagian kasus.

Karena itu, puting lecet yang menetap sebaiknya tidak hanya diberi krim, tetapi juga dicari penyebabnya.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Gejala Mastitis Baru Muncul?

Pada gejala ringan tanpa tanda bahaya, beberapa langkah suportif dapat dilakukan sambil memantau kondisi.

  1. Tetap menyusui sesuai kebutuhan bayi.

  2. Hindari pumping berlebihan untuk “mengosongkan payudara”.

  3. Gunakan kompres dingin untuk membantu mengurangi bengkak dan nyeri.

  4. Istirahat sebanyak mungkin.

  5. Gunakan bra yang nyaman dan tidak menekan.

  6. Perbaiki posisi dan pelekatan bila bermasalah.

  7. Hindari pijatan keras pada area yang sakit.

  8. Pantau gejala selama 12–24 jam.

Jika kondisi memburuk atau tidak menunjukkan perbaikan, hubungi dokter.

Apakah Menyusui Harus Dihentikan Saat Mastitis?

Pada umumnya tidak.

IDAI menyebut menyusui dapat tetap dilanjutkan pada mastitis. Tidak ada bukti bahwa bayi sehat akan mengalami gangguan kesehatan hanya karena menyusu dari payudara yang mengalami mastitis.

Menyusui sesuai kebutuhan bayi juga membantu mempertahankan aliran ASI tanpa perlu melakukan pengosongan berlebihan.

Jika menyusui langsung terlalu nyeri, Bunda dapat memulai dari payudara yang lebih nyaman terlebih dahulu atau memerah secukupnya sesuai kebutuhan.

Namun, bila terdapat kondisi khusus seperti luka terbuka tertentu, prosedur medis, abses yang sedang ditangani, atau instruksi khusus dokter, ikuti arahan tenaga kesehatan.

Apakah Payudara Harus Dipijat Keras agar Sumbatan Hilang?

Tidak.

Ini merupakan salah satu perubahan penting dari banyak saran menyusui lama.

Pijatan keras, menekan benjolan dengan kuat, menggunakan sisir, alat pijat, atau sikat gigi elektrik dapat memperburuk trauma dan edema jaringan.

Academy of Breastfeeding Medicine menganjurkan pendekatan yang lebih lembut terhadap jaringan payudara.

Jika ingin melakukan sentuhan atau pijatan, lakukan sangat lembut tanpa menekan area yang nyeri.

Bayangkan tekanan ringan seperti mengusap kulit, bukan “memecahkan sumbatan”.

Kompres Hangat atau Dingin untuk Mastitis?

Untuk membantu pembengkakan dan inflamasi, kompres dingin sering lebih nyaman dan dapat membantu mengurangi edema.

Kompres hangat singkat dapat digunakan bila terasa membantu refleks let-down sebelum menyusui, tetapi panas berlebihan atau terlalu lama dapat meningkatkan pembengkakan pada sebagian kondisi.

Prinsipnya: - dingin untuk membantu meredakan nyeri dan bengkak; - hangat singkat hanya bila membantu kenyamanan atau aliran ASI.

Jangan menggunakan kompres yang terlalu panas langsung pada kulit.

Bolehkah Pumping Saat Mastitis?

Boleh bila pumping memang merupakan bagian dari pola pemberian ASI Bunda.

Namun, jangan menambahkan sesi pumping berulang hanya untuk “mengosongkan” payudara.

Pumping berlebihan dapat merangsang peningkatan produksi dan memperberat inflamasi.

Jika Bunda pumping eksklusif: - pertahankan pola pumping normal; - gunakan suction yang nyaman; - pastikan flange sesuai; - jangan meningkatkan level hisap karena merasa ada “sumbatan”; - hentikan dan evaluasi bila pumping menyebabkan nyeri tajam.

Bagaimana Cara Mencegah Mastitis Berulang?

Tidak semua mastitis dapat dicegah, tetapi beberapa kebiasaan dapat membantu mengurangi risiko.

1. Hindari Perubahan Jadwal Menyusui Mendadak

Jika ingin mengurangi sesi menyusui atau pumping, lakukan bertahap.

2. Perbaiki Pelekatan

Pelekatan yang efektif membantu bayi mengambil ASI dengan lebih baik tanpa menimbulkan trauma pada puting.

3. Hindari Oversupply yang Tidak Perlu

Jangan pumping hanya untuk mengejar stok berlebihan bila tidak dibutuhkan.

Produksi ASI mengikuti stimulasi. Semakin sering payudara dirangsang tanpa kebutuhan nyata, semakin besar kemungkinan tubuh mempertahankan produksi tinggi.

4. Gunakan Bra yang Nyaman

Pilih bra yang menopang tetapi tidak menekan bagian tertentu secara keras.

5. Jangan Memijat Benjolan dengan Kasar

Trauma pada jaringan dapat memperburuk inflamasi.

6. Tangani Puting Lecet

Cari penyebab lecet dan perbaiki pelekatan, bukan hanya mengoleskan produk topikal.

7. Istirahat dan Jaga Kondisi Tubuh

Kelelahan berat tidak selalu menjadi penyebab langsung mastitis, tetapi kondisi tubuh yang sangat terkuras dapat membuat proses menyusui jauh lebih sulit dikelola.

Kapan Mastitis Harus Diperiksa Dokter?

Hubungi dokter bila:

  • gejala tidak membaik setelah sekitar 24 jam penanganan suportif;

  • demam menetap;

  • nyeri semakin berat;

  • perubahan warna kulit meluas;

  • muncul area yang sangat keras atau semakin membengkak;

  • gejala memburuk dengan cepat;

  • mastitis berulang di tempat yang sama;

  • Bunda baru selesai antibiotik tetapi gejala kembali;

  • Bunda memiliki kondisi medis yang menurunkan daya tahan tubuh.

Dokter akan menentukan apakah kondisi masih berupa inflamasi, sudah menjadi mastitis bakteri, atau terdapat komplikasi seperti abses.

Apa Tanda Mastitis Sudah Menjadi Abses?

Abses payudara adalah kumpulan nanah yang dapat muncul sebagai komplikasi mastitis.

Waspadai: - benjolan yang semakin besar; - area terasa sangat nyeri; - pembengkakan lokal yang tidak membaik; - bagian tertentu terasa lebih lunak atau seperti berisi cairan; - demam menetap; - gejala tidak membaik setelah terapi.

Abses tidak cukup ditangani dengan pijatan atau pumping.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan bila perlu USG payudara. Drainase menggunakan jarum atau prosedur lain mungkin diperlukan tergantung kondisi.

Apa Tanda Mastitis Berkembang Menjadi Kondisi Darurat?

Segera cari pertolongan medis bila Bunda mengalami:

  • merasa sangat tidak sehat;

  • pusing berat;

  • kebingungan;

  • mengantuk tidak wajar;

  • bicara tidak jelas;

  • napas cepat;

  • jantung berdebar sangat cepat;

  • mual atau muntah berat;

  • sulit mempertahankan cairan;

  • demam tinggi dengan kondisi yang memburuk;

  • tubuh terasa sangat lemah atau hampir pingsan.

Gejala tersebut dapat mengarah pada infeksi sistemik atau sepsis dan membutuhkan evaluasi medis segera.

Jangan menunggu sampai esok hari bila kondisi memburuk dengan cepat.

Apakah Mastitis Membutuhkan Antibiotik?

Tidak semua mastitis membutuhkan antibiotik.

Pada mastitis inflamasi yang baru muncul, penanganan suportif dapat cukup pada sebagian ibu.

Antibiotik lebih mungkin diperlukan bila dokter menilai terdapat mastitis bakteri atau gejala tidak membaik sesuai harapan.

Jenis antibiotik, dosis, serta lama penggunaan harus ditentukan dokter berdasarkan kondisi Bunda, riwayat alergi, pola resistensi lokal, dan faktor lain.

Versi lama artikel Mom Uung mencantumkan nama serta dosis antibiotik tertentu. Pada artikel remake ini, informasi tersebut sengaja tidak diberikan sebagai petunjuk pengobatan mandiri karena keputusan antibiotik harus dilakukan oleh tenaga medis.

Jika antibiotik diresepkan, gunakan sesuai petunjuk dan jangan menghentikannya atau mengubah dosis sendiri.

Apakah Obat Antinyeri Aman Saat Mastitis?

Beberapa obat antinyeri dan antiinflamasi dapat digunakan pada ibu menyusui, tetapi pilihan dan dosis sebaiknya mengikuti petunjuk dokter atau apoteker, terutama bila Bunda memiliki: - alergi obat; - penyakit lambung; - penyakit ginjal; - asma tertentu; - sedang mengonsumsi obat lain; - riwayat perdarahan.

Artikel sumber lama memberikan dosis ibuprofen dan paracetamol secara spesifik. Versi remake ini tidak mempertahankan dosis tersebut sebagai instruksi umum untuk menghindari penggunaan obat tanpa evaluasi kondisi individual.

Apakah ASI Tetap Aman untuk Bayi Saat Ibu Mastitis?

Pada umumnya ya.

IDAI menyebut tidak ada bukti adanya gangguan kesehatan pada bayi sehat yang tetap menyusu dari payudara yang mengalami mastitis.

Menyusui juga tidak perlu otomatis dihentikan ketika Bunda menerima antibiotik, karena dokter dapat memilih obat yang kompatibel dengan menyusui bila memang diperlukan.

Namun, selalu beri tahu dokter bahwa Bunda sedang menyusui sebelum mendapat resep.

Mastitis vs Payudara Penuh: Apa Bedanya?

Kondisi

Payudara Penuh / Engorgement

Mastitis

Lokasi

Sering mengenai kedua payudara

Sering lebih terlokalisasi

Nyeri

Tegang dan penuh

Nyeri lebih jelas pada area tertentu

Kemerahan/perubahan warna

Tidak selalu

Dapat muncul

Demam

Biasanya tidak

Bisa terjadi

Gejala seperti flu

Jarang

Dapat terjadi

Perlu antibiotik

Tidak

Hanya bila dinilai sebagai mastitis bakteri

Penanganan utama

Menyusui sesuai kebutuhan, kenyamanan

Penanganan suportif + evaluasi bila memburuk

Tabel ini hanya gambaran umum. Gejala dapat tumpang tindih, sehingga diagnosis tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis secara keseluruhan.

Apakah Mastitis Bisa Terjadi pada Ibu yang Eksklusif Pumping?

Bisa.

Mastitis tidak hanya terjadi pada ibu yang menyusui langsung.

Pada exclusive pumping, faktor yang dapat berperan antara lain: - jadwal pumping berubah mendadak; - oversupply; - suction terlalu tinggi; - flange tidak sesuai; - pumping berlebihan; - tekanan bra wearable pump; - payudara mengalami trauma.

Jika mastitis berulang pada ibu yang pumping eksklusif, evaluasi teknik dan jadwal pumping bersama konselor laktasi dapat membantu.

Apakah Mastitis Bisa Kambuh?

Bisa.

Mastitis berulang dapat terjadi bila faktor pencetus tidak teratasi atau terdapat kondisi yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Jika mastitis terus muncul pada lokasi yang sama, jangan hanya mengulang penanganan rumahan.

Dokter mungkin perlu mempertimbangkan: - kultur ASI pada kondisi tertentu; - evaluasi abses; - pemeriksaan USG; - penyebab struktural; - masalah laktasi yang berulang.

Mastitis yang sering kambuh perlu dievaluasi lebih menyeluruh.

FAQ tentang Mastitis pada Ibu Menyusui

Apakah mastitis bisa terjadi hanya pada satu payudara?

Ya. Mastitis sering muncul pada satu payudara dan dapat terlokalisasi di satu area tertentu. Namun, keluhan pada kedua payudara juga mungkin terjadi.

Apakah mastitis bisa sembuh tanpa antibiotik?

Sebagian mastitis inflamasi dapat membaik dengan penanganan suportif tanpa antibiotik. Namun, jika kondisi tidak membaik atau dokter mencurigai mastitis bakteri, antibiotik mungkin diperlukan.

Apakah bayi boleh menyusu dari payudara yang mastitis?

Pada umumnya boleh dan menyusui dapat tetap dilanjutkan. IDAI menyebut tidak ada bukti gangguan kesehatan pada bayi yang tetap menyusu dari payudara yang mengalami mastitis.

Apakah mastitis harus dipijat?

Tidak. Pijatan keras justru dapat memperburuk inflamasi dan trauma jaringan. Bila melakukan sentuhan pada payudara, gunakan tekanan yang sangat lembut.

Apakah mastitis harus dipompa sampai payudara kosong?

Tidak. Memaksa pumping berlebihan dapat meningkatkan produksi dan memperburuk siklus inflamasi. Pertahankan menyusui atau pumping sesuai kebutuhan normal.

Apakah mastitis bisa terjadi karena bra ketat?

Tekanan berlebihan pada payudara dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk ketidaknyamanan atau inflamasi. Pilih bra yang nyaman dan tidak menekan area tertentu.

Berapa lama mastitis biasanya membaik?

Gejala inflamasi ringan dapat mulai menunjukkan perbaikan dalam sekitar 12–24 jam dengan penanganan suportif. Bila tidak membaik dalam 24 jam atau justru memburuk, hubungi dokter.

Apakah mastitis bisa menjadi abses?

Bisa. Sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi abses, yaitu kumpulan nanah pada jaringan payudara yang membutuhkan evaluasi dan penanganan medis.

Apakah stres menyebabkan mastitis?

Stres bukan satu-satunya penyebab langsung mastitis. Namun, stres dan kelelahan dapat memengaruhi rutinitas menyusui, pumping, dan kondisi tubuh sehingga secara tidak langsung dapat memperberat situasi pada sebagian ibu.

Apakah mastitis berarti ASI saya “kotor”?

Tidak. Mastitis bukan berarti ASI menjadi “kotor”. Pada umumnya ASI tetap dapat diberikan kepada bayi dan menyusui dapat dilanjutkan.

Penutup

Mastitis pada ibu menyusui bukan sekadar “saluran ASI tersumbat” dan tidak selalu langsung berarti infeksi bakteri. Kondisi ini berada dalam spektrum inflamasi yang dapat berkembang dari pembengkakan ringan hingga mastitis bakteri, phlegmon, atau abses.

Langkah awal yang aman adalah tetap menyusui sesuai kebutuhan bayi, menghindari pumping berlebihan, menggunakan kompres dingin untuk membantu nyeri dan bengkak, memperbaiki pelekatan, serta tidak melakukan pijatan keras.

Yang paling penting adalah memantau kondisi Bunda. Jika gejala tidak membaik dalam sekitar 24 jam, memburuk cepat, disertai demam menetap, atau muncul tanda abses maupun sepsis, segera cari pertolongan medis.

Tidak perlu merasa gagal menyusui hanya karena mengalami mastitis. Dengan penanganan yang tepat, banyak ibu tetap dapat melanjutkan menyusui dengan aman.

Credit sumber awal: Artikel ini dikembangkan dan diperluas untuk blog.momuung.co.id dari materi edukasi Mom Uung, Informasi Seputar Mastitis, diterbitkan oleh Mom Uung.

Butuh Bantuan atau Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Produk & Program Mom Uung?

Kami siap membantu! Jika Mommy punya pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang produk ibu & bayi, ASI booster, serta program komunitas Mom Uung, tim Mom Uung Care siap memberikan informasi dan dukungan terbaik untuk Mommy.

Hubungi Kami
#Menyusui#Ibu Menyusui#ASI#Mastitis
Share
← Previous Article10 Masalah Umum dalam Menyusui dan Cara Mengatasinya dengan AmanNext Article →ASI Bisa Bikin Bayi Alergi? Kenali Fakta, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Comments

Memuat komentar...

Artikel Terkait